FanFic Brilliant Legacy Special Edition

View previous topic View next topic Go down

FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by pruedence on Wed Feb 24, 2010 9:10 pm

Haiii..sbenernya ini FanFic uda pernah di posting di LI, tapi di share aja disini hehe....numpang ya, Rae..




(Summer)
Bandara Icheon, 17 Maret

“Hah, sepertinya aku jadi membenci bandara ini.” Kata Hwan kesal. Hwan mengambil koper Eun Sung dan membantunya check in.
Eun Sung tertawa “Kenapa memangnya?”
Hwan selalu menyukai senyuman Eun Sung. Ia khawatir, tidak bisa melihat senyuman itu untuk waktu yang lama.
“Karena setiap kejadian di bandara ini, aku tidak suka. Dari perjumpaan pertama kita, lalu saat…” Hwan terlihat malu “Ah tidak usah dibahas.” Lalu ia mendorong koper Eun Sung dan EunWoo.
“Hwan…tunggu” Eun Sung mengejar Hwan dan begitu ia melihat mukanya, sepertinya wajah itu memerah dan juga sedih “ saat apa? Lanjutkan dong” tanyanya penasaran.
Hwan membalikkan tubuh menatap EunSung “Saat kukira, aku sudah kehilanganmu.” Tiba-tiba Hwan memeluk erat Eun Sung “Dan yang lebih menyebalkan, lagi-lagi aku harus melepas kepergianmu. Bandara sialan” lanjutnya lalu Hwan menatap Eun Sung dengan berat..
Eun Sung teringat saat ia akan pergi ke Amerika tanpa berpamitan dengan semuanya. Hatinya sedih, saat dia berpikir tentang kemungkinan yang terjadi, jika Hwan tidak menghalanginya.
EunWoo bingung melihat kedua pasangan itu. Tapi sepertinya ia tahu, lebih baik mengabaikan mereka saat ini.
“Hwan, kau tidak apa-apa?” Tanya Eun Sung khawatir.
Hwan memejamkan mata sesaat lalu ia berusaha untuk tersenyum “Jaga kesehatanmu disana. Kau juga harus mengirim email dan menelpon setiap hari.” Perintahnya dengan puas.
Eun Sung memutar bola matanya “Kau juga! Jaga baik-baik Halmoni! Jangan membuatnya kesal terus hahaha” lalu Eun Sung berusaha melepaskan pelukan Hwan, tapi ditahan. “Sun Wo Hwan!!! Lepaskan. Apa kau tidak malu.”
“wah sepertinya belum berpisah saja, aku sudah merindukan bentakanmu.” Hwan tersenyum nakal “Kalau ingin dilepaskan, katakan lagi apa yang pernah kau ucapkan di danau”
Eun Sung menendang kaki Hwan. Ia sangat malu, karena beberapa mata mulai memperhatikan mereka.
“Auch.” Hwan mengaduh kesakitan. Eun Sung menggenggam tangan Eun Wo dan berjalan menuju pintu perbatasan masuk ke pesawat.
“Kalau tahu begini, aku lebih baik diantar Ayah dan Halmoni” Eun Sung marah-marah sendiri. Tapi masa perpisahan kami seperti ini sih.
“Eun Sung… aduh kau memang kejam. Memangnya ada ya, kekasih segalak ini” Hwan menyusul Eun Sung dengan cepat.
“Apa kau bilang? Kau sebut aku apa?” teriak Eun Sung, ia berhenti dan menatap Hwan dengan malu.
“Ng…kekasih” hwan mulai tergagap.
Eun Sung hanya terdiam memerah.
Mereka jadi salah tingkah, dan tiba-tiba terdengar panggilan untuk penerbangan ke Amerika.
“A…aku harus pergi.” Kata Eun Sung perlahan.
Hwan menarik tubuh Eun Sung dan memberikan ciuman yang lembut di bibirnya. Dan setelah ia menarik diri, Eun Sung terlihat kaget dan mulai tersenyum “Hahaha…kamu tidak rela dengan kepergianku ini ya.” Binar di mata Eun Sung mulai terlihat.
Hwan hanya mengangguk dan menghela napas.
“Tapi kau mau menungguku kan?” air mata mulai mengalir di pipi Eun Sung.
“Bodoh! Tentu saja akan kutunggu. Memangnya akan semudah itu melepaskanmu setelah berjuang mati-matian” Hwan tersenyum menyebalkan dan menghapus air mata Eun Sung.
Eun Sung tersenyum dan memeluk Hwan untuk terakhir kalinya, lalu ia menggandeng tangan Eun Woo dan berjalan ke arah pintu gerbang.
“Jaga Spy untukku, ya Eun Woo” teriak Hwan pada Eun Woo.
Eun Woo hanya tersenyum mendengar teriakan Hwan.
Saat Eun Sung berada di depan pintu, ia membalikkan tubuh dan tersenyum ke arah Hwan, lalu dia berteriak “Aku mencintaimu” lalu dia pergi menghilang di balik pintu.
Hwan menatap sayang pada Eun Sung. Lalu dia terdiam beberapa menit.
Saat dia keluar dari bandara, dia menunggu pesawat sampai lepas landas. Ia melihat pesawat yang dinaiki Eun Sung terbang meninggalkannya.
Hwan mengemudi keluar bandara.
Aku yakin, tidak lama lagi, aku akan mengembangkan perusahaan Halmoni, dan aku bisa melihat senyuman Eun Sung lagi.


(Winter)
Seoul, 15 Desember

Salju sudah memenuhi jalanan kota Seoul. Seseorang yang sedang marah melintasi jalanan yang gelap… Hwan merasa tidak dipedulikan setelah membaca email dari Eun Sung. Ia tersandung tumpukan salju di dekat rumah dan memaki maki. Aaah menyebalkan.
Setelah tiba di rumah, ia memasuki rumah dengan membanting pintu dan dengan muka cemberut, ia berjalan menuju ruangan tengah. Halmoni menyatukan alisnya, begitu melihat tingkah cucunya.
“Ada apa? Pintu itu tidak bersalah” Halmoni meneruskan membaca korannya.
Hwan memandangi pintu sesaat sebelum menoleh ke Halmoni.
“Aku ingin ke Amerika.” Kata Hwan kesal.
Halmoni menatapnya dengan penuh selidik, lalu ia melipat korannya dan meletakkannya di meja “Sepertinya, harimu sungguh buruk ya”
Hwan berdiri dan berjalan menuju tangga “Beri aku cuti. Kalau bisa besok aku sudah di Amerika.” Ia mendongkol dengan kesal.
“Tunggu Sun Wo Hwan, kembali kesini!” Teriak Halmoni. Sekarang ia jadi ikut-ikutan kesal.
Hwan berhenti dan menatap Halmoni dengan kesal. Lalu ia kembali dan duduk.
“Ada apa dengan Eun Sung?” Tanya Halmoni perlahan. Memangnya apalagi yang bisa membuatnya kesal.
Hwan berjuang menahan emosinya “Wanita itu…Aaah sudahlah…intinya apa aku akan diberi cuti?” tanyanya sambil mendesah gugup.
“Tidak, kau tidak akan kuberi cuti. Karena bulan ini, akan ada promosi besar-besaran untuk Sup Sapi kita. Kau tentu tahu itu.” Jawab Halmoni tenang.
Hwan berjuang menahan emosinya, lalu berdiri dengan tidak sabar.
“Ada apa dengan Eun Sung?” Tanya Halmoni untuk yang kedua kalinya.
“Wanita itu tidak akan pulang!” teriaknya, lalu berlari menuju kamarnya.
Halmoni mendesah dan mengambil korannya kembali. Dia hanya tersenyum memikirkan pasangan muda itu. Kasihan Eun Sung, Hwan ku itu masih belum dewasa.
Tapi, apa Eun Sung benar tidak pulang? Bukankah anak itu berjanji akan pulang, musim dingin ini. Pasti ada alasan kenapa ia tidak bisa pulang. Halmoni hanya mendesah dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Amerika, 15 Desember

“Permisi, aku ingin menjemput Eun Woo.” EunSung memasuki ruangan dimana Eun Woo baru selesai latihan piano. Ia tersenyum pada guru Eun Woo dengan ramah.
“Eun Woo, kakakmu menjemput.” Miss Reggie melihat Eun Woo yang masih asyik memainkan pianonya. Ia tersenyum melihat keceriaan Eun Woo lalu kembali menemui Eun Sung “Dia sangat mencintai piano ya. Masuk saja ke dalam.” Lalu Miss Reggie berlalu.
Eun Sung memasuki ruangan Eun Woo. Disana ia menemukan adiknya yang sedang memainkan musik Beethoven.
“Eun Woo, ayo kita pulang” aku berkata dengan ceria. Tapi Eun Woo masih asik bermain dengan senangnya.
Eun Sung menunggu dengan sabar dan mendengarkan permainan Eun Woo yang sudah berkembang pesat.
Mulai hari ini, kuliahku sudah libur. Jadi aku bisa menjemput Eun Woo setiap hari, lalu pulangnya langsung ke restoran tempat aku bekerja.
Lalu ia memikirkan pembicaraannya dengan Hwan lewat email tadi. Apa aku sudah keterlaluan ya, dengan mengatakan kalau musim dingin ini, aku tidak bisa pulang.
Alasan yang kuberikan, karena Eun Woo akan mengikuti *concournya (sejenis pertandingan antara pemain musik) yang pertama, maka aku harus menemaninya kan? Aku memang merindukan Hwan. Sangat merindukannya. Merindukan suaranya, sentuhannya. Tapi, aku harus memikirkan Eun Woo. Dia membutuhkanku disini.
Concour diadakan tanggal 24 sampai 26 Desember. Tadinya aku berpikir bisa pulang saat concournya selesai. Walaupun cuma beberapa hari, setidaknya aku bisa pulang, aku sudah mengambil izin cuti dari restoran tempat aku bekerja, tapi tiba-tiba Katy, teman kerjaku harus kembali ke California karena Ayahnya sakit keras. Jadi mau tidak mau, aku tidak bisa mengambil cuti.
Aku menunggu balasan email dari Hwan, tapi tidak datang juga. Kalau mengingat tabiatnya, dia pasti sedang marah-marah dan menendang sesuatu. Eun Sung tersenyum memikirkan itu.
“Noona, a ayo kita puulang… Aaku lapar” Eun Woo menyadarkanku dari lamunan.
“Oh ayo, kita makan sesuatu. Oh pakai topimu. Di luar dingin sekali hehehe” Eun Sung memberikan topi Eun Woo, lalu menggandengnya dan berjalan bersama.
Mereka berjalan menuju pertokoan untuk membeli makanan.
“Ada aapa, Noona? Kenapa mu murung?” Tanya Eun Woo. Ia bertanya sambil memainkan box berwarna.
Eun Sung terkejut, karena Eun Wo menyadari hatinya yang sedang sedih. Lalu ia menyandarkan tubuhnya pada Eun Woo.
“Aku memikirkan Mie Ramen. Dan aku merindukannya.” Jawab EunSung sedih.
“Mie Ramen!!!A..aku juga mau ketemuuu.” Gagap Eun Woo dengan antusias
EungSung hanya tertawa suram.


Amerika 23 Desember

Saat Eun Sung sedang menyiapkan sarapan, saat terdengar bunyi telepon.
“Halo” sapa EunSung
“Secepatnya datang kemari” terdengar suara manajer restoran tempat Eun Sung bekerja.
“Oh, ada apa Mr B? Ada masalah?” Tanya Eun Sung panik.
“Kau harus datang segera.” Telepon dimatikan secara tiba-tiba. Wah ada apa ya.
Lalu dengan panik, ia pergi ke tetangganya.
“Mrs Mary, aku butuh bantuan anda” kata Eun Sung. Ia menggedor pintu apartemen sebelahnya.
Mrs. Mary membuka pintu bingung “ Ada apa? Kenapa kamu panik seperti itu?”
“Aku harus ke restoran, boleh aku titip Eun Woo? Aku segera kembali.” Kata Eun Sung, lalu memberikan kunci apartemennya.
“Hati-hati nak” kata Mrs. Mary

Begitu tiba di Restoran, ia bingung, karena ruangannya gelap. Ada apa ya? Kemana semua orang? Saat ia berjalan menuju ruangan staf, tiba-tiba
“Happy Birthday!!!” lampu menyala dengan dengan terang dan terompet berbunyi. Manajernya membawakan kue ulang tahun untuk Eun Sung.
Eun Sung kehilangan suaranya sesaat karena terkejut, lalu tertawa.
“Hahaha, kok ulang tahunku dirayakan sekarang?” tanyanya bingung bercampur senang.
“Hahaha, kami tahu, ulang tahunmu tanggal 26 Desember, tapi karena kau akan pulang ke korea, jadinya kita rayakan sekarang.” Kata Maggie salah satu temanku.
Eun Sung terkejut “Hah? Pulang… aku tidak jadi pulang karena Katy…”
“Tenang saja, sayang” kata Maggie lembut. “Kamu akan diberikan libur sesuai rencanamu semula. Itu hadiah dari kami”
“Tapi, bagaimana dengan Katy?” tanyaku bingung, tapi ada secercah harapan dalam hatiku.
“Tenang saja… kami pasti bisa menjalaninya. Kalian pikir, restoran ini tidak bisa berjalan tanpa kalian berdua ya!” Omel manajerku. Lalu ia tertawa.
Akupun menangis bahagia “Terima kasih semua, aku terharu dan senang sekali” katanya dan tersenyum lebar.
“Titip salam kami untuk si pemarah itu. Hahaha” mereka tertawa serempak.
Hahaha biar kuperjelas, si pemarah yang dimaksud adalah Hwan. Mengapa ia jadi terkenal dan dijuluki seperti itu?
Awal aku bekerja di restoran ini. Hp kutaruh di lemari penitipan pegawai. Tapi aku lupa mengganti nada dering ke diam. Dan saat itu, Hwan berhasil meningkatkan rating Sup Sapi sampai 35%. Jadinya, ia menelponku terus-terusan. Padahal perbedaan waktu kami sangat berbeda.
Karena aku tidak mendengar bunyinya, semua orang yang melewati tempat penitipan, mulai terganggu dan membawakan Hp itu padaku. Aku sungguh panik dan malu. Lalu tanpa sadar, aku langsung menekan tombol loudspeaker. Lalu mulailah terdengar teriakan Hwan yang tidak sabar dan seluruh restoran terdiam.
Dan dari seluruh kebodohan yang pernah dilakukan Hwan, ini yang paling bodoh. Dia berkata dalam bahasa inggris. Dan bisa dipastikan semua orang mengerti artinya.
Sejak itu, banyak yang menggodaku dan bilang “Pacarnya EunSung pemarah ya”
Ohh aku sungguh malu.
Setiba aku di apartemen, aku menjelaskan pada Mrs Mary tentang kejadian tadi. Saat mendengar aku ulang tahun, ia memberikan aku seikat bunga yang baru dibelinya tadi pagi.
Ini keajaiban natal ya? Atau doaku didengar ya. Semuanya berlangsung dengan aneh. Cutiku diterima, dan yang paling membingungkan, concour Eun Woo tanggal 24 Desember. Dan babak keduanya diadakan bulan Januari. Alasan yang diberikan, karena mengingat musim liburan, mereka membuat pengecualian.
Harusnya aku menghubungi Hwan saat ini. Tapi karena seminggu ini, ia tidak menjawab teleponku. Maka aku langsung datang saja. Tiga hari yang lalu aku sudah bilang ke Halmoni dan Ayah kalau aku pulang entah tanggal berapa. Tapi karena keanehan ini, aku bisa pulang besok malam setelah resital. Huwaaa senangnya.
“Eun Woo… ayo kita temui si Ramen pemarah ituuu!” teriak Eun Sung gembira.


Seoul 23 Desember

“Hwan, kamu benar-benar ikut ke Dong Hai?” Tanya Halmoni terkejut.
Hwan menoleh sekilas dan berjalan dengan memasukkan tangannya ke saku celana
“Ya.” Jawabnya pelan.
“Ikut mempromosikan Sup Sapi? Bukannya aku sudah menugaskan orang lain.” Kata Halmoni bingung.
“Halmoni, izinkan aku ikut serta. Aku ingin melakukan sesuatu yang berguna.” Lalu Hwan pergi keluar.
Hwan berjalan menelusuri jalanan menuju halte bis. Daripada ia terus merindukan EunSung, lebih baik ia fokus pada pekerjaannya. Ia selalu melakukan kesalahan seminggu belakangan ini. Dan karena merasa bersalah, akhirnya aku memutuskan untuk ke Dong Hai untuk mempromosikan Sup Halmoni.
Aku akan pergi berempat dengan staf lainnya. Mungkin tiga hari disana.
Aku juga sudah mulai gelisah, karena sudah kelamaan ngambek. Aku sangat ingin mendengar suara Eun Sung. Selama beberapa hari kemarin, Eun Sung terus menelpon, tapi sengaja tidak kuangkat. Aku masih kesal karena dia tidak jadi pulang kemari.
Lalu dua hari yang lalu, ia berhenti menelpon.
Kenapa sih, dia tidak terus menelpon! Padahal kalau dia terus menelpon, pasti akan kuangkat. Aku memang tidak bisa ngambek lama-lama. Karena aku memang merindukannya. Menyesal juga tidak ada gunanya. Bersikap manja yang tidak menguntungkan.
Aku memandangi Hp yang tetap sunyi. Ingin menelpon, tapi… ini masalah harga diri atau takut ya. Aaah menyebalkan.
Eun Sung..apa yang sedang kau lakukan…


Seoul 24 Desember

“Aku berangkat!” Hwan membawa tasnya menuju pintu.
“Pagi sekali, Hwan” kata Ibuku.
“Yah… kami harus tiba disana jam 10. Jadi harus berangkat dari pagi.
“Kamu sudah menghubungi Eun Sung?” Halmoni berkata dengan datar
Hwan hanya melirik sesaat “ Su…sudah kemarin.” Bohongnya.
“Oh baguslah..karena beberapa hari yang lalu, saat dia menelponku, dia terdengar sedih” halmoni berjalan menuju kamarnya.
Hwan langsung menyusul Halmoni.
“Apa yang dia katakan? Dia sedih?” Tanya Hwan penasaran.
Halmoni meliriknya sesaat “Bukankah kamu sudah menghubunginya kemarin.” Kata Halmoni tersenyum misterius.
Hwan mendadak salah tingkah “Ng…aku…” Hwan mendesah frustasi “Halmoniii, katakan padaku”
“Dasar anak bodoh. Kenapa kamu belum dewasa juga…” Halmoni menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hwan hanya menatap dan menunggu Halmoni.
Halmoni menatapnya dengan sayang “Ia menanyakan keadaanmu. Dia khawatir karena kamu tidak mengangkat teleponnya.” Ia memandang Hwan yang menundukan kepalanya “Kenapa kamu tidak bisa mengerti dia?” Tanya Halmoni kesal.
Hwan tahu kalau sifat keras kepalanya akan mendatangkan banyak masalah, ia hanya bisa terdiam.
“Pergilah. Nanti kamu harus menelpon Eun Sung. Haah…kalau tahu begini, lebih baik EunSung dengan Junse.” Kata Halmoni tidak peduli.
Hwan langsung tersentak “Halmoniii!”
“Kalau kamu tidak, suka, bersikaplah dewasa atau suatu saat Eun Sung akan meninggalkanmu.” Tegas Halmoni.
Hwan menahan emosi yang sudah mau meledak, dan ia pergi tanpa bisa membantah perkataan itu. Kenapa harga diriku selalu mendatangkan masalah. Ini benar-benar keterlaluan.


Seoul 25 Desember

Eun Sung melirik jam menunjukkan pukul 7 malam. Sekarang ia dan Eun Woo baru tiba di Seoul bandara Incheon. Ia sangat lelah karena perbedaan waktu yg cukup panjang antara Amerika dan Korea.
Apakah terlalu malam, untuk pergi ke tempat Hwan ya?
Sebelumnya, aku harus pulang dulu ke tempat ayah.
“Ayo Eun Woo… kamu pasti merindukan korea, kan?” Tanya Eun Sung ceria.
“Iii…iya…” jawab Eun Woo.
“Ayo kita pulang. Ayah pasti sudah menyiapkan kue natal untuk kita.” Eun Sung berusaha terlihat ceria.
Perjalanan menuju rumah membuatku tidak tenang. Kenapa Hp Hwan tidak aktif ya. Ada yang tidak beres kah?


Dong hai

“Sial! Kenapa aku lupa mencharger Hp ku. Aah ini sungguh menyebalkan. Padahal aku ingin menelpon Eun Sung.
“Hwan Oppa, tidak apa-apa?” Tanya salah satu staff junior yang bernama Tae Yon. Tidak tahu kenapa, wanita ini selalu mendekatiku. Padahal aku tidak memberikan sinyal untuk didekati.
“Tidak apa-apa. Hp ku mati.” Aku masih kesal dengan kecerobohanku.
“Memangnya mau menelpon siapa? Mau meminjam Hp ku?” tanyanya lembut.
“Tidak apa-apa, terima kasih” aku tersenyum menolak.
“Kami ingin mengadakan pesta natal kecil-kecilan d ruang rekreasi. Mau ikut?” tanyanya ceria.
“Hmm…mungkin nanti. Terima kasih” lalu aku pergi mencari seseorang yang mungkin memiliki Hp yang sama denganku. Mungkin dia membawa chargernya.
Tae Yon terlihat kecewa “Apa aku tidak cantik yah? Reaksinya benar-benar menolakku.”


Eun Sung tiba di rumah Hwan pukul 9. ia lelah sekali, tapi tetap memaksakan diri untuk bertemu Hwan.
“Halmoniii!!!” aku berlari memeluk Halmoni dengan sayang “Wah aku senang sekali bisa bertemu denganmu… selamat natal jugaaa” Aku memeluk erat dan melepaskannya perlahan “Halmoni masih bisa mengingatku kan?” godaku perlahan. Aku takut penyakitnya bertambah parah.
“Anak bodoh, tentu saja aku ingat.aku hanya terkejut dengan kedatanganmu. Kenapa kamu tidak mengabari kalau akan pulang?” Tanya Halmoni gusar.
“Maaf, Halmoni. Aku teburu- buru mengurus berbagai hal. Oiya, dimana Hwan?” tanyaku antusias.
Halmoni hanya menatapku perlahan dan menarik nafas “Dia pergi ke Dong Hai untuk melakukan promosi perusahaan selama 3 hari.”
Eun Sung terkejut, ia tidak menyangka kalau Hwan tidak di Seoul.Dong Hai? tempat dimana kami pertama kali…
Aaah ini bukan waktunya melamun.
“Boleh aku meminjam mobilmu, Halmoni?” tanyaku ragu.
Halmoni tersenyum “Lakukan apa yang kau inginkan. Setelah kau kembali, ceritakan semua pertualanganmu. Aku ingin mendengarnya.”
“Terima kasih Halmoni. Aku sayang padamu” Eun Sung memeluknya sekilas, lalu berlari keluar.
Dasar si bodoh Sun Wo Hwan. Kamu dimana sih. Kenapa susah sekali untuk bisa bertemu. Aku mengemudikan mobil dan melaju kencang kea rah jalan tol. Tapi, begitu sampai disana, kemana aku harus mencarinya yah? Coba ku telpon Halmoni… nada sambung…
“Hallo, Halmoni… begini, Hp Hwan tidak bisa kuhubungi. Bagaimana cara untuk menghubunginya ya? Penginapannya dimana?” tanyaku terburu-buru.
“Aku akan memberikan nomor salah satu staff yang juga ikut. Namanya Eun Tae Yon. Dia bagian pemasaran daging berkualitas. Kalau penginapannya, aku tidak tahu.”
Halmoni menjawab dengan khawatir.
“Ok, terima kasih Halmoni.” Lalu aku menutup telepon. Perjalanan ini terasa sangat lama. Dan kegelapan yang menyelimuti membuatku semakin kedinginan. Bodohnya aku hanya memakai satu mantel dan syal biru laut yang tidak berbahan tebal. Rok ini membuat kakiku kedinginan. Aku juga tidak memakai sarung tangan. Uuugh, Hwan bodoh. Lihat saja, kalau ketemu nanti.


Hwan berjalan sendirian di pantai. Semuanya terlihat berbeda. Waktu terakhir kali kesini, tidak ada salju dan tidak sedingin ini. Musim dingin di pantai, terdengar buruk. Sama seperti suasana hatiku sekarang ini. Aku hanya memperhatikan Hp yang tidak aktif. Lalu aku mengeluarkan kotak kecil yang ada di saku jaketku.
Kenapa susah sekali untuk bertemu atau mendengar suaranya? Berapa kali sih, dia mencoba mengurangi umurku saat mengkhawatirkannya.
Apa hadiah ini jadi kuberikan ya? Besok ulang tahunnya. Aku ingin sekali menemuinya.
Eun Woo…kakakmu itu memang menyebalkan. Satu-satunya wanita yang membuatku pusing.
Aku berbalik dan menelusuri sepanjang pantai sebelum kembali ke penginapan. Aku melihat tempat dimana aku mengambil foto Eun Sung. Saat dia dengan canggung bergaya di depanku. Hanya seperti itu saja, sudah membuat jantungku berhenti sesaat. Hahaha memang hanya wanita itu yang akan membunuhku suatu hari nanti. Yah, itu juga kalau aku masih bisa bertemu dengannya.
Hwan berbalik dan kembali ke penginapan. Beberapa orang, masih merayakan natal di malam yang dingin ini.


“Hallo, apakah ini Eun Tae yon?” Eun Sung menelpon dengan panik.
“Ya, ini siapa?” Tanya seorang wanita.
“Maaf mengganggu, bisakah aku berbicara dengan Sun Wo Hwan? Ini penting.” Aku berusaha menenangkan suaraku yang bergetar.
Eun Tae Yon bertanya-tanya tentang wanita ini. Dia mencari Hwan oppa. Siapa dia? Penggemarnya? Tapi kok tahu nomor teleponku “Memang kamu siapa ya? Ada perlu apa mencari Hwan oppa?”
Oppa? Kok sepertinya mereka sudah dekat. Aku akan menuntut penjelasan ini nanti. Aku merasa cemburu.
“Aku sekarang ada di Dong Hai untuk bertemu dengannya. Bisa kau beritahu aku dimana kalian menginap?”
suaraku mulai tidak sabar.
“Maaf, aku tidak tahu dimana dia sekarang. Lebih baik Anda pulang saja. Sudah malam.” Klik…wanita itu memutuskan teleponnya secara tiba-tiba.
Aku terdiam sesaat dan menahan emosi. Tapi akhirnya aku hanya terdiam lemas. Wanita itu terdengar cemburu juga ya. Siapa sih wanita itu? Kupikir, setelah Seung Mi, dia bisa belajar mengambil sikap pada setiap wanita. Jadi selama aku tidak ada, dia sibuk menebar pesonanya ya.
Aku duduk terdiam di mobil dan tidak tahu harus berbuat apa. Jam menunjukkan pukul 11. apa aku pulang saja? Aku membuka laci mobil, disitu terdapat kaset, cd, dan senter. Hmm, mungkin aku bisa ke tempat kenangan itu.
Aku menyalakan mobil dan melaju pelan.


Hwan memasuki penginapan dengan lelah. Kenapa perasaanku tidak enak ya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Di ruang rekreasi masih banyak orang berpesta. Aku juga melihat 3 staf lainnya sedang duduk berpesta. Aku lelah tapi belum mengantuk sih. Mungkin aku bisa bergabung dengan mereka.
Mereka tidak menyadari kedatanganku karena ada dinding pembatas yang tipis, saat ingin kusapa tiba-tiba kudengar Tae Yon berkata “Jauh-jauh datang kemari hanya untuk bertemu Hwan Oppa.”
Kata-kata itu membuatku berhenti dan terdiam.
Salah satu staff lainnya berkata “Lalu, kamu tidak memberitahu, dimana dia berada? Tega sekali hahaha”
“Yah, kalian diam saja. Aku penasaran, siapa wanita itu. Padahal selama aku mulai bekerja, aku tidak pernah melihat atau mendengar dia bersama wanita lain.” Tae Yon berkata dengan sombong.
“Itu kan karena kamu baru bekerja beberapa bulan. Kudengar dulu pernah ada wanita deh. Namanya kalau tidak salah, Seung Mi.” jawab staff yang suka bergosip itu.
“Oh… apa itu wanita tadi ya. Mau apa dia…”
Hwan keluar dari persembunyiannya dan memandang Tae Yon dengan marah “Bisakah kau menjelaskan padaku, siapa yang mencariku!”
Tae Yon terlihat ketakutan “Ng, ma maaf, aku tidak tahu namanya.”
Hwan berusaha menahan emosinya “Hp mu. Berikan padaku.” Bentak Hwan kasar.
Tae Yon langsung memberikan Hp nya dan membeku di tempat. Dua orang lainnya hanya bisa terdiam.
Aku melihat nomor yg tadi menelpon ke nomor ini. Ini nomor Eun Sung. Lalu aku menelpon nomor itu.
Terdengar ‘Nomor yang Anda tuju berada di luar jangkauan’
“Sial!” katanya kesal. Ini bercanda kan. Apa dia sudah kembali ke Seoul. Lalu aku menelpon Halmoni. Tidak enak mengganggu, tapi ini benar-benar penting.
Terdengar suara mengantuk “Halo?”
“Halmoni, Eun Sung ada disana?” tanyanya panik.
Halmoni terdiam sesaat, karena ia terkejut dan berusaha memahami sesaat.
“Hwan, Eun Sung menyusulmu kesana. Memangnya kalian belum bertemu?” Halmoni melirik jam.
“Ya, kami belum bertemu. Ada beberapa masalah disini” Hwan melirik tajam pada Tae Yon.
Setelah kututup telepon, aku langsung membuang Hp itu ke meja, lalu berlari keluar.
Kemana dia ya? Aku berlari ke arah pantai. Disana sudah sepi tapi masih ada beberapa orang, aku mencari seseorang yang mirip, tapi tidak menemukannya. Aku tidak menyangka, jarak kami sudah terasa dekat tapi tetap tidak bisa bertemu.
Ayo Sun Wo Hwan…berpikir berpikir. Tiba-tiba aku teringat tempat dimana kami pertama kali berciuman. Tidak mungkin disana kan? Atau mungkin saja.
Aku kembali ke penginapan dan mengambil mobil.


Jalanan sudah sepi, aku berjalan menelusuri tangga. Udaranya juga dingin sekali. Eun Sung merapatkan mantelnya, tiba-tiba ia menyentuh kalung yang pernah diberikan Hwan.
Hatinya sakit mengingat ia tidak bisa bertemu dengan pria itu. Ia terus berjalan dan sampailah di jembatan gantung tempat…
Wah, gelap sekali. Tapi di ujung jembatan terdapat lampu remang- remang. Aku berjalan perlahan sambil mengingat kenangan kami. Untung senter ini cukup terang.
Setelah melewati jembatan, aku menaiki tangga menuju tempat tinggi untuk memandang pemandangan Dong Hai yang indah. Hanya terlihat titik titik kecil dan sinar-sinar kecil di kegelapan malam. Perlahan air mataku mulai menetes. Aku menangis karena aku tidak bisa bertemu Hwan. Aku membayangkan bayangan ia menyusulku, seperti waktu itu.
Lalu aku terduduk dan menggenggam kalung itu. Aku menyinarinya supaya terlihat bersinar.
Biarlah, aku melewati hari ini disini. Lalu aku bisa pulang. Setidaknya sampai matahari terbit.

Hwan berlari ke arah jembatan yang gelap. Sial, aku lupa membawa senter. Tapi ada sinar di ujung jembatan.
Mungkinkah dia melewati jalan ini? Apa tidak seram yah? Tapi kalau memang EunSung, pasti dia akan melewatinya. Wanita bodoh keras kepala yang sok tegar itu. Dia memang membunuhku perlahan- lahan. Teringat saat Eun Sung yang nyaris tertabrak mobil. Oh wanita itu benar-benar…
Aku berlari menelusuri jembatan dan menaiki tempat yang tinggi dimana aku pernah menyusulnya. Aku melihat sinar kecil di tempat itu. Eun Sung kah?
Perlahan ia berjalan kea rah sinar itu.

Langkah kaki yang semakin mendekat, membuat Eun Sung takut. Siapa itu? Tidak mungkin ada orang yang kesini jam 1 pagi. Yah dia memang pengecualian. Ia langsung mematikan senter dan terdiam. Takut orang itu mendatangi sinar ini.
Tiba-tiba terdengar teriakan “EunSung. Kamu dimana?”
I…itu, suara Hwan. Eun Sung langsung berdiri dan menyalakan senternya. Senter itu tepat mengarah pada Hwan. Jarak mereka hanya 2 meter dari tempatnya berdiri. Saat Hwan ingin menghampiri, aku berteriak “Jangan kesini!”
Hwan terdiam…”Mengapa?”
“A…aku benci padamu!” aku mengeluarkan perasaanku.
Hwan memasuki tangannya di saku jaketnya.
“Mengapa?” tanyanya lagi.
“Pokoknya aku benci” teriakku.
“Mengapa?” kali ini, Hwan berjalan perlahan mendekati Eun Sung.
“Pergi, aku tidak mau melihatmu” EunSung berbohong karena sekarang air matanya mulai mengalir lagi. Oh pria itu, membuatku kesal sekaligus membuatku rindu setengah mati.
“Tidak! Aku tidak akan pergi…dan aku tahu kau berbohong. Buktinya kau menyusulku kesini.” Jawab Hwan dengan percaya diri. Ia semakin mendekati Eun Sung.
“Tidak, a… aku hanya…” Eun Sung semakin kehilangan kata-katanya karena Hwan sudah semakin dekat.
Hwan terlihat menahan perasaannya, emosinya.
“Biarkan aku melihatmu, menyentuhmu. Memangnya kau belum cukup puas membunuhku ya?” tanyanya dengan nada sarat akan emosi.
“Hah? A…aku apa?” jarak mereka hanya tinggal setengah meter. Tapi masing- masing hanya saling memandangi. Saling memuaskan diri karena sudah lama tidak bertemu “Tu..tunggu!” teriak Eun Sung, sebelum Hwan melangkah maju.
Hwan kesal karena Eun Sung bersikap sulit “Apa lagi?”
“Siapa wanita itu?” Tanya Eun Sung ragu.
“Apa?” Hwan terlihat bingung.
“Wanita yang memanggilmu Oppa. Wanita yang kutelpon itu.” Teriaknya Eun Sung.
Hwan terkekeh senang melihat kecemburuan Eun Sung “Dia hanya staff di perusahaan Halmoni. Aku tidak mendekati dia, kalau kau mau tahu.”
“Benarkah?” Tanya Eun Sung ragu.
“Aku kan pria baik dan keren. Jadi tidak aneh kalau ada yang suka padaku.” Jawabnya percaya diri, tapi Hwan mulai tidak sabar.
“Huh. Kau terlalu berlebihan. Lalu kenapa dengan Hpmu?” Tanya Eun Sung lagi.
“Batre ku habis. Tadinya aku ingin menghubungimu” katanya lagi lalu mulai berjalan ke arahnya lagi.
“Lalu, kenapa kamu tidak pernah mengangkat telepon…” pertanyaan Eun Sung terputus karena Hwan menarik dia ke arahnya, lalu tangan kanannya menahan kepala Eun Sung dan tangan kiri memeluk pinggangnya. Hwan mencium Eun Sung dengan lembut dan dengan kerinduan yang mendalam. Ia mempererat pelukannya.
EunSung terkejut sesaat, kemudian ia membalas ciuman Hwan. Perasaan rindunya ia lepaskan dengan pelukan ini.
Ciuman mereka semakin dalam, dan senter itu terjatuh dari pegangan Eun Sung.
Mereka terlonjak kaget. Dan melepaskan ciumannya.
Masing- masing menarik nafas, tapi satu sama lain, tidak ada yang mau melepaskan pelukan mereka.
Hwan menatapnya dengan lembut, dan mencium bibir Eun Sung sekilas sebelum berkata “Kamu ini, bawel sekali” katanya terkekeh.
Eun Sung langsung kesal “Dan kamu, pemarah yang menyebalkan”
Hwan menyentuh dahi Eun Sung dengan dahinya lalu perlahan “Happy Birthday and Merry Christmas” katanya dengan lembut.
Eun Sung merona bahagia dan tersenyum “Terima kasih dan Merry Christmas juga” katanya.
“Pejamkan matamu.” Perintah Hwan tiba- tiba.
EunSung memandangnya dengan tanda Tanya, tapi menurut. Ia memejamkan matanya. Tiba-tiba ia merasakan tangannya diangkat dan sesuatu dimasukkan ke jarinya.
“Wah, tanganmu dingin sekali.” Kata Hwan khawatir.
Eunsung membuka matanya, dan menatap cincin yang menghiasi jari manisnya. Ia terkejut dan air matanya mengalir kembali. Tapi ini tangis bahagia.

(lagu will you marry me berkumandang)

Ada ukiran tulisan di cincin itu. Eun Sung mengambil senter yang ia jatuhkan dan mengarahkannya pada cincin itu. Tulisannya ‘Saranghaeyo’
Eun Sung menatap Hwan yang sedang tersipu malu. Lalu ia terkekeh senang.
“A…apa?” teriak Hwan malu.
“Tidak…tidak apa-apa.” Lalu Eun Sung mencium pipi Hwan “terima kasih, saranghaeyo” lalu ia tersenyum kecil.
“A…aku, apakah kamu mau memberikan seluruh hidupmu padaku?” Tanya Hwan cepat.
Eun Sung melihatnya penuh selidik “Itu lamaran?”
“Ng…ah ak aku… i…iya, ta tapi belum langsung kok. Aku akan menunggumu selesai kuliah dulu” Hwan tergagap dan merasa malu.
Eun Sung tersenyum bahagia. Senyuman yang membuat hati Hwan hangat “Apakah itu artinya ‘Ya’??” Tanya Hwan ragu.
“Dengan kau yang pemarah keras kepala penggoda wanita? Siapa yang mau.” Eun Sung menjahili Hwan dan terkekeh senang.
“Aigoo… kamu benar-benar…” ia menggelitiki Eun Sung lalu mereka tertawa bersama.
“Baik-baik aku menyerah. Hahaha” Eun Sung mengangkat tangannya dan memberikan tanda peace.
“Dan jawabannya?” Hwan terlihat kesal dan gugup.
EunSung berjinjit dan memegang pipi Hwan, lalu mencium bibirnya sekilas “Ya, aku mau. Siapa lagi yang bisa menghadapi tabiatmu selain aku!”
Hwan tersenyum bahagia, lalu ia mengangkat tangan Eun Sung. Ia menggosok- gosokkannya agar lebih hangat.
“Kamu kedinginan?” Tanya Hwan khawatir.
Hwan membuka jaketnya, lalu memakaikan jaket itu ke EunSung.
“Tidak apa-apa. Nanti kamu kedinginan” Eun Sung menolak dengan gugup.
“Tidak apa-apa. Aku kan lelaki yang kuat.” Hwan memaksa “Aku tidak mau kau sakit.”
“Hahaha…ya, memang salahmu kalau aku sakit” dipukul dadanya Hwan dengan lembut.
“Ya ya ya… aku bersalah” Hwan tertawa dan merangkul Eun Sung “Ayo, kita kembali.
“Kemana?” Tanya Eun Sung bingung.
“Ke penginapan, memangnya kau mau kemana lagi?” Hwan tertawa lembut.
“Maukah, kau menunggu sampai matahari terbit?” Tanya Eun Sung manja.
Hwan terdengar tidak setuju “tapi, kau sudah kedinginan.”
“Kumohon…” EunSung mengedipkan matanya dan tersenyum lebar.
Hwan hanya bisa menyerah terhadap senyuman itu “Ayo, kita cari tempat duduk yang langsung menghadap matahari” ia menggandeng Eun Sung dan berjalan.
Eun Sung tersenyum kecil. Mungkin kami memang pasangan teraneh yang kurang direstui oleh langit, karena keadaan mempermainkan kami agar tidak bisa bertemu. Tapi cinta memang membuat sesuatu yang mustahil menjadi tidak mustahil.
Cinta atau keajaiban natal, aku tidak peduli. Yang pasti aku akan terus berjuang untuk cinta ini.


The End

Mianhee kalau ada kata-kata yang salah atau kurang berkenan di hati m(^__^)m

pruedence

Posts : 6
Join date : 2010-02-10

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by pruedence on Wed Feb 24, 2010 9:13 pm

badewei gw sempet bikin fanfic ala seungmi...ada yg tertarik baca ga ya??
ini skilas infonya...kira2 pada ada bayangan ga yah hihihihi


Seung Mi Part

“Terima kasih Bu guruuuu!” teriak anak-anak dengan cerianya.
Seung Mi tersenyum senang “Hati-hati anak-anak.”
Ia berjalan menuju ruangan guru untuk membereskan barang sebelum meninggalkan sekolah. Di dalam ruangan masih ada beberapa guru yang sedang memeriksa ujian.
“SeungMi, kamu sudah selesai mengajar?” Tanya Bu MikGuk.
“Ya. Aku harus segera pulang.” SeungMi segera membereskan barang-barangnya. Wah aku sudah telat menjemput ibuku.
“Kamu tahu, besok guru yang cuti itu akan masuk?” tanyanya lagi.
“Ng…tidak, aku tidak tahu. Memangnya kenapa?” Tanya SeungMi bingung dengan topic ini.
Bu MikGuk terkekeh “Tidak apa-apa, hanya umurnya tidak beda jauh denganmu. Dan aku hanya bisa memintamu untuk tidak jatuh cinta padanya.” Godanya lembut.
“Hahaha” SeungMi hanya bisa tertawa hambar. Cinta… bukan sesuatu hal yang ingin kurasakan lagi.ia teringat Hwan Oppa. Lalu ia segera beranjak pergi “Permisi, aku pulang dulu.” Lalu ia segera berlari keluar pintu.

pruedence

Posts : 6
Join date : 2010-02-10

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by Rae_Yoo on Wed Feb 24, 2010 10:56 pm

Jeng boleh...tapi jadian sama BSB ekekek..... m03 [hmpfh] [hmpfh]

Rae_Yoo

Posts : 188
Join date : 2010-02-09
Location : Bandar Lampung

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by pruedence on Thu Feb 25, 2010 1:08 am

BSB siapa?

pruedence

Posts : 6
Join date : 2010-02-10

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by Rae_Yoo on Thu Feb 25, 2010 4:23 am

BSB ituh Bae Son Bin Prue....yg jadi kak Jun Se

Bdw....I LOPH U Prue^^ udah bikin, taruh FF disini^^
Gak nyangka aja Prue mau ada niat masukin FF kesini....Thank U yah^^

Rae_Yoo

Posts : 188
Join date : 2010-02-09
Location : Bandar Lampung

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by pruedence on Thu Feb 25, 2010 10:05 pm

Wahaha..dia bukannya sama yuri yah??
secara mreka brdua kurang dpt chemistry nya..

gpp, sapa tau bisa mbantu promoin..ntar kl ada ff lagi, kutaro sini lagi Smile

pruedence

Posts : 6
Join date : 2010-02-10

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by Rae_Yoo on Sat Feb 27, 2010 1:15 am

iya..taro ff disini ajah ekeke...banyakin yg hwansung tapi yua....hehe...

Rae_Yoo

Posts : 188
Join date : 2010-02-09
Location : Bandar Lampung

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by tytyjah_shining on Sat Dec 04, 2010 9:29 am

Rae_Yoo onnie FanFic Brilliant Legacy Special Edition sypa yg bkin ? trus onnie dpt drmna ? fanvic x ni da kmungkinan dibuat kah m sbs ? onn please jwab yaa..=) gomawo^^(*penasaran) mode on*

tytyjah_shining

Posts : 10
Join date : 2010-12-03
Age : 23
Location : samarinda-kaltim-indonesia

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by tytyjah_shining on Sun Dec 05, 2010 4:30 am

kangen seungjoo...hoahhhhh
jhoengmal bhogosipho..TT
FIGHTING SEUNGJOO =)

tytyjah_shining

Posts : 10
Join date : 2010-12-03
Age : 23
Location : samarinda-kaltim-indonesia

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by tytyjah_shining on Sun Dec 05, 2010 4:44 am

lol! best kissed of seungjoo ever afro1
loph [hmpfh] [hmpfh] albino I love you Embarassed

tytyjah_shining

Posts : 10
Join date : 2010-12-03
Age : 23
Location : samarinda-kaltim-indonesia

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by vesicabilliaris on Tue Jan 11, 2011 4:38 am

wadoohh neng tijah m02
pikkux sprtix mo diblurrr tuhh [hmpfh]
ganti yg enakan diliat rollingeyes heheheheh

vesicabilliaris

Posts : 35
Join date : 2010-11-02
Location : indonesia

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by vesicabilliaris on Tue Jan 11, 2011 4:49 am

sunshiny kmnn yakkkkkkkkkkkk.....

vesicabilliaris

Posts : 35
Join date : 2010-11-02
Location : indonesia

View user profile

Back to top Go down

Re: FanFic Brilliant Legacy Special Edition

Post by Sponsored content Today at 1:33 am


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum